.28247_127915263915516_100000911288802_142358_3814025_n.jpg(mbeduro)
dayak-vs-madura1.jpg(February 2001. Suku Madura
dikejar dan dibantai oleh
penduduk asli, Suku Dayak
di Palangkaraya, Kalimantan
Tengah. Kiri – Seorang
pejuang dayak dengan senjatanya. Kanan – Kepala
salah seorang pendatang
asal madura yang ditebas
dan diarak di jalanan)
====
http://twitter.com/mainvirgiawan
Konflik Sampit adalah pecahnya kerusuhan antar etnis di Indonesia, berawal pada Februari 2001 dan berlangsung sepanjang tahun itu. Konflik ini dimulai di kota Sampit, Kalimantan Tengah dan meluas ke seluruh provinsi, termasuk ibu kota Palangka Raya. Konflik ini terjadi antara suku Dayak asli dan warga migran Madura dari pulau Madura. Konflik tersebut pecah pada 18 Februari 2001 ketika dua warga Madura diserang oleh sejumlah warga Dayak. Konflik Sampit mengakibatkan lebih dari 500 kematian, dengan lebih dari 100.000 warga Madura kehilangan tempat tinggal. Konflik Sampit tahun 2001 bukanlah insiden yang terisolasi, karena telah terjadi beberapa insiden sebelumnya antara warga Dayak dan Madura. Konflik besar terakhir terjadi antara Desember 1996 dan Januari 1997 yang mengakibatkan 600 korban tewas. Penduduk Madura pertama tiba di Kalimantan tahun 1930 di bawah program transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah kolonial Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia. Tahun 2000, transmigran membentuk 21% populasi Kalimantan Tengah. Suku Dayak merasa tidak puas dengan persaingan yang terus datang dari warga Madura yang semakin agresif.Konflik Sampit .
Hukum-hukum baru telah memungkinkan warga Madura memperoleh kontrol terhadap banyak industri komersial di provinsi ini seperti perkayuan, pertambangan dan perkebunan. Ada sejumlah cerita yang menjelaskan insiden kerusuhan tahun 2001. Satu
versi mengklaim bahwa ini disebabkan oleh serangan pembakaran sebuah rumah Dayak. Rumor mengatakan bahwa kebakaran ini disebabkan oleh warga Madura dan kemudian sekelompok anggota suku Dayak mulai membakar rumah-rumah di permukiman
Madura. Sedikitnya 100 warga Madura dipenggal kepalanya
oleh suku Dayak selama konflik ini. Suku Dayak memiliki sejarah praktik ritual pemburuan kepala (Ngayau), meski praktik ini dianggap musnah pada awal
abad ke-20.

Peristiwa Memicu Tragedi
Sampit Dayak vs Madura
–Sebelum peristiwa berdarah
meledak di Sampit,
pertikaian antara suku
Dayak dan suku Madura telah lama terjadi. Entah
apa penyebab awalnya
(Hanya Tuhan yang tau),
yang jelas suku Dayak
dapat hidup berdampingan
dengan damai bersama suku lain tapi tidak suku Madura.
Kenapa orang Dayak jadi
beringas terhadap etnis
Madura…??? Bahkan
keturunan suku terdekat
dari suku Dayak pun (Banjar), kaget melihat
keberingasan mereka dalam
Tragedi Sampit. Menengok kembali peristiwa
lama yang MUNGKIN termasuk pemicu terjadinya
Tragedi sadis di Sampit:

*Tahun 1972 di Palangka Raya, seorang gadis Dayak
diperkosa. Terhadap
kejadian itu diadakan
penyelesaian dengan
mengadakan perdamaian
menurut hukum adat (Entah benar entah tidak
pelakunya orang Madura)
*Tahun 1982, terjadi pembunuhan oleh orang
Madura atas seorang suku
Dayak, pelakunya tidak
tertangkap, pengusutan
atau penyelesaian secara
hukum tidak ada.

*Tahun 1983, di Kecamatan Bukit Batu,
Kasongan, seorang warga
Kasongan etnis Dayak di
bunuh. Perkelahian antara
satu orang Dayak yang
dikeroyok oleh tigapuluh orang madura. Terhadap
pembunuhan warga
Kasongan bernama Pulai
yang beragama Kaharingan
tersebut, oleh tokoh suku
Dayak dan Madura diadakan perdamaian. Dilakukan
peniwahan Pulai itu
dibebankan kepada pelaku
pembunuhan, yang kemudian
diadakan perdamaian
ditanda tangani oleh ke dua belah pihak, isinya
antara lain menyatakan
apabila orang Madura
mengulangi perbuatan
jahatnya, mereka siap
untuk keluar dari Kalteng.

*Tahun 1996, di Palangka Raya, seorang gadis Dayak
diperkosa di gedung
bioskop Panala dan di
bunuh dengan kejam dan
sadis oleh orang Madura,
ternyata hukumannya sangat ringan.

*Tahun 1997, di Desa Karang Langit, Barito
Selatan orang Dayak
dikeroyok oleh orang
Madura dengan
perbandingan kekuatan 2:40
orang, dengan skor orang Madura mati semua. Orang
Dayak tersebut diserang
dan mempertahankan diri
menggunakan ilmu bela diri,
dimana penyerang berhasil
dikalahkan semuanya. Dan tindakan hukum terhadap
orang
Dayak adalah dihukum
berat.
Tahun 1997, di Tumbang Samba, ibukota Kecamatan
Katingan Tengah, seorang
anak laki-laki bernama Waldi
mati terbunuh oleh seorang
suku Madura tukang jualan
sate. Si belia Dayak mati secara mengenaskan,
tubuhnya terdapat lebih
dari 30 tusukan. Anak muda
itu tidak tahu menahu
persoalannya, sedangkan
para anak muda yang bertikai dengan si tukang
sate telah lari kabur. Si
korban Waldi hanya
kebetulan lewat di tempat
kejadian saja. Tahun 1998, di Palangka Raya, orang Dayak
dikeroyok oleh empat orang
Madura hingga meninggal,
pelakunya belum dapat
ditangkap karena melarikan
diri, kasus inipun tidak ada penyelesaian secara hukum. Tahun 1999, di Palangka Raya, seorang petugas
Tibum (ketertiban umum)
dibacok oleh orang Madura,
pelakunya di tahan di
Polresta Palangka Raya,
namun besok harinya datang sekelompok suku
Madura menuntut agar
temannya tersebut
dibebaskan tanpa tuntutan.
Ternyata pihak Polresta
Palangka Raya membebaskannya tanpa
tuntutan hukum. Tahun 1999, di Palangka Raya, kembali terjadi
seorang Dayak dikeroyok
oleh beberapa orang suku
Madura karena masalah
sengketa tanah. Dua orang
Dayak dalam perkelahian tidak seimbang itu mati
semua. Sedangkan
pembunuh lolos, malahan
orang Jawa yang bersaksi
dihukum 1,5 tahun karena
dianggap membuat kesaksian fitnah terhadap
pelaku pembunuhan yang
melarikan diri itu. Tahun 1999, di Pangkut, ibukota Kecamatan Arut
Utara, Kabupaten
Kotawaringin Barat, terjadi
perkelahian massal dengan
suku Madura. Gara-gara
suku Madura memaksa mengambil emas pada saat
suku Dayak menambang
emas. Perkelahian itu
banyak menimbulkan korban
pada kedua belah pihak,
tanpa penyelesaian hukum. Tahun 1999, di Tumbang Samba, terjadi penikaman
terhadap suami-isteri
bernama Iba oleh tiga
orang Madura. Pasangan itu
luka berat. Dirawat di RSUD
Dr. Doris Sylvanus, Palangka Raya. Biaya operasi dan
perawatan ditanggung oleh
Pemda Kalteng. Namun para
pembacok tidak ditangkap,
katanya? sudah pulang ke
pulau Madura. Kronologis kejadian tiga orang Madura
memasuki rumah keluarga
Iba dengan dalih minta
diberi minuman air putih,
karena katanya mereka
haus, sewaktu Iba menuangkan air di gelas,
mereka
membacoknya, saat istri Iba
mau membela, juga di tikam.
Tindakan itu dilakukan
mereka menurut cerita mau membalas dendam, tapi
salah alamat. Tahun 2000, di Pangkut, Kotawaringin Barat, satu
keluarga Dayak mati
dibantai oleh orang Madura,
pelaku pembantaian lari,
tanpa penyelesaian hukum. Tahun 2000, di Palangka Raya, 1 satu orang suku
Dayak di bunuh oleh
pengeroyok suku Madura di
depan gedung Gereja
Imanuel, Jalan Bangka. Para
pelaku lari, tanpa proses hukum. Tahun 2000, di Kereng Pangi, Kasongan, Kabupaten
Kotawaringin Timur, terjadi
pembunuhan terhadap
SENDUNG (nama kecil).
Sendung mati dikeroyok
oleh suku Madura, para pelaku kabur, tidak
tertangkap, karena lagi-lagi
katanya sudah lari ke Pulau
Madura. Proses hukum tidak
ada karena pihak
berwenang tampaknya belum mampu
menyelesaikannya (tidak
tuntas). Tahun 2001, di Sampit (17 s/d 20 Februari 2001)
warga Dayak banyak
terbunuh karena dibantai.
Suku Madura terlebih
dahulu menyerang warga
Dayak. Tahun 2001, di Palangka Raya (25 Februari 2001)
seorang warga Dayak
terbunuh diserang oleh
suku Madura. Belum
terhitung kasus warga
Madura di bagian Kalimantan Barat,
Kalimantan Timur dan
Kalimantan Selatan. Suku
Dayak hidup berdampingan
dengan damai dengan Suku
Lainnya di Kalimantan Tengah, kecuali dengan
Suku Madura. Kelanjutan
peristiwa kerusuhan
tersebut (25 Februari 2001)
adalah terjadinya peristiwa
Sampit yang mencekam.

“Sebelum lanjut cerita
berikutnya, admin berharap
tidak ada yang menganggap
berita ini adalah sara.
Kejadian demi kejadian di
atas di paparkan bukan karena melihat dari satu
sisi saja dan info ini tidak
untuk saling memfitnah
atau sejenisnya tapi hanya
untuk sebagai pengingat
dan pelajaran bagi kita agar tidak terulang kembali
kejadian mengerikan seperti
ini.” Lanjut cerita: Banyak Versi
tentang latar belakang
tragedi ini, apa yang
membuat suku Dayak di
Kalteng begitu kalap dalam
menghadapi warga Madura. Hampir semua warga dan
tokoh Dayak yang menunjuk
perilaku kebanyakan etnis
Madura sebagai
penyebabnya. H Charles
Badarudin, seorang tokoh Dayak di Palangkaraya
menceritakan kelakuan
warga Madura banyak yang
tidak mencerminkan
peribahasa “di mana bumi
dipijak, di situ langit dijunjung”. Ia mencontohkan
salah satunya dalam soal
tanah. Ada Versi lain mengatakan:
Terjadinya perang antar
suku Dayak dan suku
Madura karena
kecemburuan sosial-Ekonomi. Versi berbeda juga
menceritakan: Banyak sebab
yang membuat suku Dayak
seakan melupakan asazi
manusia, baik langsung
maupun tidak langsung. Masyarakat suku Dayak di
Sampit selalu “terdesak”
dan selalu mengalah. Dari
kasus dilarangnya
menambang intan di atas
“tanah adat” mereka sendiri karena dituduh tidak
memiliki izin penambangan.
Hingga kampung mereka
yang harus berkali-kali
pindah tempat karena harus
mengalah dari para penebang kayu yang
mendesak mereka makin ke
dalam hutan. Sayangnya,
kondisi ini diperburuk lagi
oleh ketidakadilan hukum
yang seakan tidak mampu menjerat pelanggar hukum
yang menempatkan
masyarakat Dayak menjadi
korban kasus-kasus
tersebut. Tidak sedikit kasus
pembunuhan orang dayak
(sebagian besar disebabkan
oleh aksi premanisme Etnis
Madura) yang merugikan
masyarakat Dayak karena para tersangka (kebetulan
orang Madura) tidak bisa
ditangkap dan di adili oleh
aparat penegak hukum. Etnis madura yang juga
punya latar belakang
budaya kekerasan ternyata
menurut masyarakat Dayak
dianggap tidak mampu
untuk beradaptasi (mengingat mereka sebagai
pendatang). Sering terjadi
kasus pelanggaran “tanah
larangan” orang Dayak oleh
penebang kayu yang
kebetulan didominasi oleh orang Madura. Hal inilah
yang menjadi salah satu
pemicu perang antar etnis
Dayak-Madura. Dari cara mereka melakukan
usaha dalam bidang
perekonomian saja, mereka
terkadang dianggap terlalu
kasar oleh sebagian besar
masyarakat Dayak, bahkan masyarakat Banjar
sekalipun. Banyak cara-cara
pemaksaan untuk
mendapatkan hasil usaha
kepada konsumen mereka.
Banyak pula tipu-daya yang mereka lakukan. Namun,
tidak semua suku Madura
bersifat seperti ini. Jadi, berita atau anggapan
tentang kecemburuan
sosial-ekonomi yang
menjadi penyebab pecahnya
“perang” tersebut dari hasil
pengamatan dan penilaian Versi lain ini adalah tidak
benar. Ada yang mengungkapakan
bahwa pertikaian yang
sering terjadi antara
Madura dan Dayak dipicu
rasa etnosentrisme yang
kuat di kedua belah pihak. Semangat persukuan inilah
yang mendasari solidaritas
antar-anggota suku di
Kalimantan. Situasi seperti
itu diperparah kebiasaan
dan nilai-nilai yang berbeda, bahkan mungkin
berbenturan. Misalnya, adat
orang Madura yang
membawa parang atau
celurit ke mana pun pergi,
membuat orang Dayak melihat sang “tamu”-nya
selalu siap berkelahi. Sebab,
bagi orang Dayak, membawa
senjata tajam hanya
dilakukan ketika mereka
hendak berperang atau berburu. Tatkala di antara
mereka terlibat keributan
dari soal salah menyabit
rumput sampai kasus tanah
amat mungkin persoalan
yang semula kecil meledak tak karuan, melahirkan
manusia-manusia tak
bernyawa tanpa kepala Saat terjadi pembantaian di
Sampit entah bagaimana
cara mereka (Etnis Dayak)
yang tengah di rasuki
kemarahan membedakan
suku Madura dengan suku- suku lainnya, yang jelas
suku-suku lainnya luput dari
“serangan beringas” orang-
orang Dayak